Warga Larang Truk Pengangkut Material Lewat di Jalan Komplek Perumahan

Warga Larang Truk Pengangkut Material Lewat di Jalan Komplek Perumahan


PAYAKUMBUH, dekadepos.com-

Puluhan warga Perumahan Mega Permai, Kelurahan Tanjung Pauh, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh, melarang truk mengangkut material melewati jalan perumahan mereka.

Pasalnya, warga perumahan tersebut khawatir jalan komplek perumahan mereka, bakal rusak atau hancur akibat dilindas truk bermuatan material milik developer yang akan membuka perumahan baru di dekat lokasi Perumahan Mega Permai tersebut.

Warga perumahan Mega Permai tak hanya sekadar menghadang truk pengangkut material, mereka juga menutup badan jalan dan bahkan bersama-sama membangun pagar agar truk pengangkut material tak bisa ke lokasi perumahan yang akan dibangun.    

 

Tak hanya itu, warga setempat juga melayangkan surat kepada Lurah Tanjung Pauh, terkait keresahan mereka adanya aktifitas mobilisasi material bangunan milik salah satu pengembang yang hilir mudik membawa material di jalan perumahan tersebut.

Surat yang dilayangkan warga tertanggal 31 Desember 2020 yang diketahui oleh Ketua RW 01, Novizar dan Ketua LPM Tanjung Pauh Abrar itu, diungkapkan beberapa hal keberatan warga terkait aktifitas lalu lalangnya truk bermuatan material milik pengembang tersebut.

“Benar, surat itu berdasarkan musyawarah masyarakat bersama perangkat Kelurahan. Keberatan masyarakat karena menggunakan akses jalan komplek perumahan yang telah menimbulkan dampak negatif serta merugikan warga. Di komplek ini banyak anak kecil dan tidak memiliki arena bermain khusus untuk anak – anak. Sehingga orang tua khawatir melepas anaknya bermain ke jalan yang dilalui kendaran pengangkut bahan material tersebut, ” ucap Ketua RW 01 Kelurahan Tanjung Pauah,Novizar, kepada awak media.

Dalam musyawarah tersebut masyarakat menyampaikan, akibat jalan komplek perumahan dimanfaatkan untuk mengangkut material, warga khawatir akan terjadi kerusakan jalan akibat tidak seimbangnya kualitas jalan dengan bobot kendaraan yang melalui jalan komplek perumahan ini.  Disamping itu, terjadi kerusakan di beberapa rumah yang dilalui kendaraan pengangkut material tersebut, berupa keretakan di bagian dinding rumah warga.

Novrizal menjelaskan, pihak developer yang memanfaatkan jalan perumahan untuk mengangkut material ke komplek perumahan baru miliknya, belum pernah menginformasikan kepada warga akan adanya kegiatan pembangunan dan akan mempergunakan akses jalan untuk penimbunan sawah di lokasi perumahan baru tersebut.

Keluhan lainnya warga,  terjadinya polusi udara yang diakibatkan oleh lalu lalang kendaraan yang sangat menganggu, termasuk gangguan kesehatan dan timbulan debu juga mengakibatkan kotornya kain yang di jemur didepan rumah warga.

Yang lebih menyakitkan warga Perumahan Mega Permai, adanya tindakan pengancaman dan penyerangan oleh perwakilan perusahaan terhadap warga yang tinggal di tempat lewatnya kendaraan pengangkut material tersebut.  Akibat tindakan itu, menimbulkan keresahan dan kekhawatiran bagi warga perumahan Mega Permai, terhadap penyerangan lanjutan dan tindakan anarkis dari warga yang tinggal di luar komplek perumahan Mega Permai.

Demi ketentraman dan kenyamanan warga tidak terusik dan terganggu, warga perumahan Mega Permai berharap agar pihak mengambil tindakan terhadap keadaan tersebut.

Surat yang dilayangkan warga perumahan juga ditembuskan kepada Ketua DPRD Kota Payakumbuh, Kapolres, Dinas Perhubungan, Dinas PUPR, Dinas Lingkungan Hidup, Badan Pengamanan dan Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera Seksi Wil II Kementrian LHK,  Bhabinkamtibmas dan Babinsa Kelurahan Tanjung Pauh serta Satpol PP kota Payakumbuh.

“Informasi beredar bahwa masyarakat melakukan penembokan jalan untuk menghambat mobilisasi angkut tanah ke tanah perumahan yang baru. Padahal yang sebenarnya, masyarakat melakukan perbaikan tembok perumahan yang pernah roboh.  Sehingga itu yang dimanfaatkan developer, ” lanjut Novizar.

Sementara itu Lurah Tanjung Pauh ketika di konfirmasi terkait surat yang dikirimkan warga Perumahan Mega Permai, belum dapat dikonfirmasi.

Sementara itu pihak developer perumahan, Ridwan Sabirin yang dibubungi awal media mengatakan bahwa, tindakan warga ini adalah ilegal atau semena -mena.

“Tindakan menghalang-halangi dalam rencana penimbunan tanah itu telah mempunyai izin dan tanah sudah sesuai dengan peruntukan untuk perumahan adalah tindakan diskriminasi dan ilegal. Saya akan menempuh jalur hukum sebagai pihak yang di zolimi,” ujar Ridwan Sabirin.

Diakui Ridwan Sabirin, sebenarnya masalah ini sudah lama yakni  sewaktu dia masih menjadi wakil rakyat di DPRD Kota Payakumbuh.

“Karena saat itu Saya anggota DPRD, maka saya menghentikan pekerjaan.  Namun setelah saya tidak lagi menjadi anggota dewan,  saya memulai penimbunan lagi.  Namun tetap saja di usik. Untuk itu Saya akan menempuh jalur hukum, ” ucap Ridwan Sabirin.

Diungkapkan Ridwan Sabirin, ketika Pemko Payakumbuh melakukan normalisasi Batang Agam, mobilisasi material normalisasi tersebut harus melalui perumahan Panorama Alam Regency miliknya. 

“Karena tidak ingin menghambat pembangunan dan sebagai warga negara dan sebagai developer yang sadar hukum dan koperatif, Saya serahkan semua fasilitas sosial dan fasilitas umum meskipun belum ada serah terima ke pihak Pemerintah Kota Payakumbuh,” sebut Ridwan Sabirin.

“Saya tahu provokator dibalik semua ini. Dan saya sebagai warga Tanjung Pauah dan putera asli Koto Nan Ompek, ingin mendapat perlakuan yang tidak adil di kampung kelahiran saya, ” pungkas Ridwan Sabirin. (ds)



Untuk Info/Edukasi lebih lanjut, Silahkan Kunjungi SUMBER Berita, Artikel dan Foto ini, di : Source link

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan
%d blogger menyukai ini: