Menggeliat di Tengah Pandemi

Pengurus Kadin Jawa Timur/Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Jawa Timur,  Rudy Sutanto.


Pasar properti dalam dua bulan terakhir mulai menggeliat. Hal itu tercermin pada meningkatnya penjualan properti sekunder selama era adaptasi kenormalan baru (new normal).

“Penawaran properti di bawah harga Rp 500 juta mulai diluncurkan oleh pengembang dan disambut baik oleh pasar, terutama oleh konsumen yang ingin langsung menempatinya,” tutur Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Jawa Timur, Rudy Sutanto.

Meskipun kondisinya cukup berat, terutama saat merealisasikan kredit kepemilikan dari pembelian tahun-tahun sebelumnya, para pengembang tidak menyerah. Mereka bekerja sama dengan para broker, terutama anggota AREBI, untuk menggali potensi pasar dan meningkatkan kembali kepercayaan terhadap investasi properti.

Apalagi perbankan juga tetap memberikan dukungan terhadap bisnis properti. Hanya saja, perbankan sekarang lebih berhati-hati memilih calon debitur, baik developer maupun konsumen.

“Di sisi lain, konsumen langsung merespons positif tawaran program pembayaran dan serah terima dari para pengembang yang memiliki ready stock unit,” ucap Rudy.

Saat ini, penjualan rumah tapak primer (landed house) tetap menjadi primadona, terlebih di kalangan developer yang mampu menyiapkan ready stock dalam waktu singkat .

“Investor lebih memilih produk dan lokasi yang dalam waktu tidak terlalu lama bisa memberikan capital gain atau passive income,” kata pria kelahiran Surabaya, 10 Maret 1970, itu.

Melihat tren tersebut, Rudy Sutanto optimistis pasar properti ke depan lebih baik lagi. Kecenderungan pasar properti sampai akhir tahun ini diperkirakan masih didominasi pasar properti sekunder karena lebih menarik dan harga yang bervariasi sesuai kebutuhan cash dari penjual atau pemilik properti.

“Banyak gedung komersial yang ditawarkan, seperti hotel dan multifunction building dengan harga yang variatif dan menerima penawaran harga berapa pun sesuai kondisi situasi adaptasi kenormalan baru,” tutur dia.

Dukungan Pemerintah

Selama menghadapi pasar properti di tengah pandemi ini, Rudy berharap dukungan pemerintah, seperti membuka atau melonggarkan kembali pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR). “Setidaknya properti di bawah harga Rp 5 miliar agar dapat segera diproses dan diterima pengajuannya, serta nilai plaffon kreditnya diperlonggar,” ujar dia.

Di luar itu, para pelaku bisnis properti bersama para pengurus Kadin Jatim terus mengupayakan agar bisnis properti di provinsi tersebut kembali bergerak. Dengan begitu pula, roda ekonomi akan kembali berputar, mengingat sektor properti menyerap 5 juta tenaga kerja dan menjadi gerbong bagi 174 sektor industri turunannya, dari semen, pasir, kayu, batu, batu bata, keramik, besi, baja, kaca, cat, furnitur, hingga perbankan.

“Kami juga terus berupaya meningkatkan kompetensi broker, melalui lembaga sertifikasi broker properti nasional. Harapannya, ke depan, para broker semakin dipercaya oleh para stakeholder,” tegas dia. (ros)

Lihat juga:  

Ketika Konsumen Berubah dari ‘Ingin’ Menjadi ‘Butuh’

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)





Untuk Info/Edukasi lebih lanjut, Silahkan Kunjungi SUMBER Berita, Artikel dan Foto ini, di : Source link

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan
%d blogger menyukai ini: