Bisnis Properti Lesu, Perbankan Mestinya Buka Kran KPR

img_title


  • Jumat, 11 September 2020 | 17:55 WIB
  • Penulis:

MAGELANG, suaramerdeka.com – Potensi bisnis properti di eks Karesidenan Kedu, khususnya di Kota/Kabupaten Magelang cukup tinggi. Meski dalam situasi pandemi covid-19 dan daya beli masyarakat menurun, namun permintaan unit rumah masih tetap ada, baik rumah komersial (nonsubsidi) maupun subsidi.

Namun, kata sekretaris REI Komisariat Kedu Fajar Ali, pengajuan calon debitur untuk mendapatkan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) dari perbankan justru malah sangat sulit. Ia mencontohkan, jika developer mengajukan akhad kredit sebanyak 20 calon debitur, paling-paling yang disetujui bank hanya dua atau tiga debitur.

Menurut Fajar, dalam situasi seperti ini, mestinya hal itu tidak boleh terjadi. Ia mengatakan, kalau developer tidak bisa menjual rumah, perekonomian akan mandek. Sebaliknya, jika bisa berjualan rumah maka buruh bisa bekerja, kontraktor bisa bangun perumahan, matrial bahan bangunan laku, dan perbankan bisa menyalurkan KPR.

Baca Juga: Penjualan Perumahan, Konsumen Informal Sulit Peroleh Kredit

Baca Juga: Program Pemulihan Ekonomi, Pengembang Merasa Dianaktirikan

Fajar mengaku bisa memahami, dalam situasi pandemi seperti sekarang ini banyak perbankan berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan/kredit, karena perekonomian sedang lesu. “Tapi ya jangan keterlaluan seperti ini. Saat ini, saya dan teman-teman developer begitu sulit mengajukan akhad kredit ke bank,” kata dia.

Keluhan itu dikatakan dalam diskusi bersama mantan ketua REI Komiaariat Soloraya Anthony AH Prasetyo yang datang ke Kabupaten Magelang, kemarin. Selain silaturahmi kedatang Anthony dan tim tersebut untuk konsolidasi sebelum pelaksanaan Musda REI Jateng 19 September mendatang.

Anthony yang juga kandidat ketua REI Jawa Tengah itu mengatakan, sulitnya akhad kredit KPR di bank umum tidak hanya terjadi di Magelang saja, tapi di berbagai wilayah di Indonesia. Karena itu, pihaknya berharap perbankan lebih proaktif dan mencari solusi dalam situasi pandemi covid-19 seperti sekarang ini.

Apalagi perbankan, terutama bank Himbara mendapatkan penempatan dana Rp 30 triliun dari pemerintah untuk program percepatan pemulihan ekonomi nasional atau PEN. “Kalau tidak optimal pemanfataan atau serapannya, lantas dana itu untuk apa,” tandasnya.

Anthony menawarkan solusi. Jika perbankan khawatir akan banyaknya kredit macet di masa pandemi seperti sekarang ini, lantaran terlalu mudah menyalurkan pembiayaan, terutama KPR, kata dia, developer siap bekerja sama. Yakni dengan membeli kembali (buy back) rumah yang kreditnya macet, sehingga perbankan tidak terlalu merugi.

“Secara teknis,saya kira cara ini mudah untuk dilakukan, hanya butuh keberanian dan komitmen beraama,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Anthony mengatakan, Real Estate Indonesia (REI) harus menjadi mitra strategis para stake holder di daerah. Sebab, keberlangsungan bisnis properti tidak lepas dari mereka. Seperti, masalah perizinan, status lahan, penyaluran KPR, listrik, air bersih, fasos, dan lainnya.

“Kita harus dekat dengan Pemda, kita harus dekat dengan pengambil para kebijakan, kita harus dekat perbankan pula, untuk memudahkan bisnis kita,” kata dia.




Untuk Info/Edukasi lebih lanjut, Silahkan Kunjungi SUMBER Berita, Artikel dan Foto ini, di : Source link

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan
%d blogger menyukai ini: