25 Kata-Kata Mutiara Lucu Bahasa Jawa, Bikin Tepuk Jidat tapi Penuh Makna

ilustrasi tertawa


Bola.com, Jakarta – Bahasa Jawa merupakan satu di antara bahasa daerah yang dipakai di Indonesia. Namun, sesuai data pada 2010, ada 68 juta orang di seluruh dunia yang bertutur menggunakan bahasa Jawa.

Kalangan diaspora Jawa di berbagai negara lain di luar Indonesia, seperti Suriname, Belanda, dan Malaysia juga menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara, ada begitu banyak cara untuk membuat kita terhibur dan tertawa, seperti membaca kata-kata lucu. Apabila kamu kebetulan juga bertutur menggunakan bahasa Jawa, bisa membaca kata-kata lucu dalam bahasa Jawa.

Bahasa Jawa yang digunakan untuk berinteraksi sehari-hari juga bisa menghasilkan kata-kata mutiara lucu.  

Kata-kata mutiara lucu itu makin tersebar, tak hanya di kalangan penurut bahasa Jawa saja, melainkan hingga ke berbagai kalangan seiring tren media sosial.

Kamu pasti penasaran seperti apa saja kata-kata lucu bahasa Jawa tersebut? 

Berikut ini kumpulan kata-kata mutiara lucu dalam bahasa Jawa berserta artinya dalam bahasa Indonesia, Jumat (29/5/2020), yang disadur dari Brilio, Merdeka, dan Liputan6, Jumat (29/5/2020).

1. “Dosa sing paling menyedihkan iku dosambat ora duwe duit”. (Dosa yang paling menyedihkan itu adalah mengeluh tidak punya uang)

2. “Cintaku nang awakmu iku koyok kamera, fokus nang awakmu tok, liyane ngeblur.” (Cintaku hanya fokus pada dirimu seperti kamera, hanya fokus pada dirimu saja, yang lainnya blur)

3. “Obat pahit ae marakke mari, mosok koe sing manis marakke loro”. (Obat yang pahit saja bisa bikin sembuh, masak kamu yang manis bikin sakit)

4. “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, mantan wes neng penghulu aku iseh kesepian”. (Berakit-rakit kehulu berenang-renang ke tepian, mantan sudah di penghulu, aku masih kesepian)

5. “Najan awakmu lemu, ning isih amot ning atiku”. (Walaupun badanmu besar, masih muat kok di hati ku)

6. “Jenenge urip mesti akeh cobaan, yen akeh saweran kui jenengan dangdutan”. (Namanya hidup itu pasti banyak cobaan, kalau banyak saweran itu namanya dangdutan)

7. “Pacaran kui ra usah diumbar-umbar, sing penting undangan teko-teko kesebar”. (Pacaran itu tidak perlu dipamerkan, yang penting tiba-tiba menyebar undangan)

8. “Ojo godain bojone wong. Biarlah bojone wong sing nggodain kita”. (Jangan menggoda istri orang. Biarlah istrinya orang yang menggoda kita)

9. “Tresno iku kadang koyo criping telo. Iso ajur nek ora ngati-ati le nggowo.” (Cinta terkadang seperti keripik singkong, bisa hancur jika tidak hati-hati dibawa)

10. “Aku tanpamu bagaikan sego kucing ilang karete. Ambyar.” (Aku tanpamu bagai nasi kucing hilang karetnya, hancur)

11. “Kowe nek sayang ngomong, ojo ngode terus. Aku dudu brangkas sing butuh kode”. (Kamu kalau sayang itu bilang, jangan memberikan kode saja. Aku bukan brangkas yang butuh kode)

12. “Pantesan awakku ora lemu-lemu. Sing tak pangan harapan palsu”. (Pantas saja badanku tidak gendut-gendut. Yang aku makan harapan palsu)

13. “Udane awet, koyo lambemu nek ngomel, gak leren-leren”. (Hujannya awet nggak reda-reda, seperti mulutmu kalau ngomel, tidak pernah berhenti)

14. “Obat sing pait wae iso nggawe mari, mosok koe sing manis iso nggawe loro?” (Obat yang pahit saja bisa membuat sembuh, masa kamu yang manis malah bikin sakit?)

15. “Wes kadung ngomong sayang jebule wes nduwe gandengan, wes kadung tak sawang malah ninggal kenangan”. (Sudah terlanjur menyatakan sayang, ternyata sudah punya gandengan, sudah terlanjur dipandang malah meninnggalkan kenangan)

16. “Ben akhire ora kecewa, dewe kudu ngerti kapan wektune berharap lan kapan wektune kudu mandeg”. (Agar akhirnya tidak kecewa, kita harus mengerti kapan waktunya berharap dan kapan waktunya harus berhenti)

17. “Rasah sok romantis, nek akhire mung tragis. Mending seng humoris tapi akhire manis”. (Nggak perlu romantis, kalau akhirnya hanya tragis. Mending yang humoris tapi akhirnya manis)

18. “Yen tak sawang sorote mripatmu, ketoke kowe arep nembung utang karo aku”. (Kalau aku lihat sorot matamu, sepertinya kamu akan meminta hutang padaku)

19.  “Nek ngomong ojo manis-manis, mundak cangkeme dirubung semut”. (Kalau bicara jangan terlalu manis-manis, nanti mulutnya diserbu semut)

20. “Wong lemu kui, dudu kakean mangan, tapi program diete sing gagal”. (Orang gemuk itu, bukan kebanyakan makan, tapi program dietnya gagal)

21. “Sopo sing gelem mijeti aku. Nek wedok tak pek bojo. Nek lanang, bojone tak pek.” (Siapa yang mau mijitin aku. Kalau perempuan akan aku jadikan istri. Kalau laki-laki, istrinya akan kujadikan istriku)

22. “Kerjo tak tekuni. Duit tak celengi, dolan tak kurangi. Insyaallah taun ngarep salatmu tak mamumi”. (Kerja tak tekuni. Uang aku kumpulkan, main aku kurangi. InsyaAllah tahun depan kamu jadi makmum salatku)

23. “Aku mung iso maca buku, durung iso maca atimu”. (Aku hanya bisa membaca buku, belum bisa membaca hatimu)

24. “Wong Jowo kui jos! Bensin dadi bengsin, cokelat dadi soklat, mobil dadi montor, utang dadi lali”. (Orang jawa itu memang mantap! Bensin jadi bengsin, cokelat jadi soklat, mobil jadi montor, utang jadi lupa)

25. “Nek koe tenanan tresno, ojo koe nggawe eluh banyu motone, ojo nyakiti atine, ojo nggawe atine loro”. (Jika kamu benar-benar cinta padanya, Jangan hiasi matanya dengan air mata, telinganya dengan dusta, hatinya dengan luka)

 

Sumber: Brilio.net (Penulis: Nur Luthfiana Hardian. Published: 25/10/2019), Merdeka.com (Penulis: Novi Fuji Astuti. Published: 29/4/2020), Liputan6.com (Penulis: Husnul Andi, Editor: Fadila Adelin. Published: 11/11/2019).



Untuk Info/Edukasi lebih lanjut, Silahkan Kunjungi SUMBER Berita, Artikel dan Foto ini, di : Source link

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan