Menengok Karya Mengagumkan Schoemaker Bersaudara di Bandung

Huyogo Simbolon


Dalam kesempatan mengeksplorasi Makodam itu, Kepala Pelaksana Pembinaan Mental dan Sejarah Kodam III Siliwangi Mayor Infanteri Engkos Kosim yang memberi informasi sejarah bangunan.

Engkos berkata, Gedung Markas Kodam III Siliwangi didirikan pada 1918 oleh arsitek Schoemaker bersaudara. Awalnya, bangunan didirikan sebagai rumah dinas petinggi militer Belanda.

Pascakemerdekaan Indonesia, bangunan ini kemudian menjadi markas bagi tentara Divisi I/Siliwangi yang saat itu merupakan gabungan dari Brigade I/Tirtayasa, Brigade II/Suryakancana, Brigade III/Kian Santang, Brigade IV/Guntur, dan Brigade V/Sunan Gunung Jati.

“Bangunan ini memiliki desain tegak lurus. Pembangunannya sendiri memakan waktu dua tahun lamanya,” kata Engkos.

Berdasarkan catatan sejarah, pada awal abad ke-20 pemerintah Hindia Belanda menjadikan Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat komando militer. Hal itulah yang melatari pembangunan gedung-gedung di Bandung sebagai pusat pemerintahan.

Saat ini, kata Engkos, bangunan itu memiliki beberapa ruangan. Ruang bina juang kodam– atau yang diberi nama ruang Sudirman–adalah yang paling menonjol di area ini.

Ruang Sudirman merupakan ruang khusus Makodam III Siliwangi yang mempunyai makna yang berkaitan nilai juang dan semangat pengabdian yang tulus dan suci bagi warga Kodam III Siliwangi.

“Ruang ini untuk memupuk, memelihara dan mengembangkan tradisi luhur yang ada dan hidup di tengah-tengah prajurit Siliwangi, serta menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan pada satuan,” ujar Engkos seraya menambahkan, ruangan diresmikan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar pada 20 Mei 1994.

“Dinamakan ruang Sudirman dengan harapan agar semua sikap, perilaku, pengabdian dan semangat juang dari panglima besar Jenderal Sudirman dapat diwarisi oleh setiap prajurit Siliwangi dalam melaksanakan tugas,” tuturnya.

Ruang Sudirman sendiri dibagi empat ruangan. Pertama, ruang utama. Dari pantauan di lokasi, terdapat relief di aula utama gedung ini. Selain relief bergambarkan perjalanan hidup Sudirman, ada pula relief perjuangan Siliwangi. Ruangan ini digunakan untuk melaksanakan acara-acara tradisi Kodam, seperti menerima laporan prajurit baru, serah terima jabatan pejabat, dan menerima tamu kehormatan.

Kedua, ruang pataka. Ruangan ini digunakan untuk menggugah semangat juang prajurit Siliwangi setelah melihat lebih dekat pataka sebagai simbol lambang-lambang kebanggaan dan kehormatan.

Selain ruang pataka, ada juga ruang kehormatan. Ruangan khusus ini sebagai kehormatan tertinggi bagi setiap prajurit Siliwangi yang telah mendarma bakti dirinya secara optimal bagi keharuman bangsa dan negara dengan prestasi yang gemilang.

Terakhir, terdapat ruang tamu VIP yang berfungsi untuk menerima tamu-tamu kehormatan. Ruang Sudirman masih terjaga dengan baik. Begitu pula dengan keseluruhan bangunan utama Kodam III Siliwangi.

Akan tetapi, masyarakat belum tentu bisa mendapatkan akses masuk ke bangunan cagar budaya ini. Hal itu dikarenakan protokoler lingkungan militer.

“Untuk acara kebesaran seperti ulang tahun kodam itu boleh. Tapi hari biasa tidak diperkenankan,” kata Engkos.



Untuk Info/Edukasi lebih lanjut, Silahkan Kunjungi SUMBER Berita, Artikel dan Foto ini, di : Source link

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan
%d blogger menyukai ini: