Jejak Arsitektur Dunia pada Koleksi Jam Mido Halaman all

CEO Mido Watch, Franz Linder.


NEW YORK, KOMPAS.com – Banyak produsen jam tangan mendesain arloji keluarannya berdasarkan benda-benda lain, seperti bunga, bulan, hingga mobil balap dan pesawat. Nah, Mido, pembuat jam tangan dari Swiss merancang jam tangannya berdasarkan hal berbeda: Arsitektur bangunan-bangunan ikonik dunia!

Bentuk arsitektur bangunan tersebut menjadi inspirasi desain Mido, sehingga arlojinya tak sekedar menjadi penunjuk waktu, tapi juga memiliki “cerita” di baliknya. Seperti halnya sebuah bangunan dengan arsitektur unik yang bukan hanya menunjukkan fungsi, ia juga menjadi penguat karakter, bahkan penanda sebuah lingkungan.

Keunikan arsitektur Tembok China di Tiongkok, Jembatan Sydney di Australia, dan yang terbaru, Museum Solomon Guggenheim di New York, Amerika Serikat, merupakan sederet dari bangunan ikonik yang dipilih Mido sebagai desain utama produk-produk jam tangannya.

Baca juga : Menemukan Museum Guggenheim pada Jam Tangan Mido

Meski sudah memproduksi jam sejak tahun 1918, tetapi baru pada tahun 2000-an Mido yang dimiliki oleh Swatch Group ini memilih inspirasi arsitektur sebagai “DNA”-nya.

“Jam yang bagus itu harus memiliki inovasi, kualitas, fungsi, dan desain yang bertahan lama. Hal yang sama juga berlaku untuk arsitektur. Selain fungsional, ia juga punya nilai keindahan dan bertahan lama,” kata CEO Mido, Franz Linder, dalam sesi wawancara peluncuran jam Mido edisi Guggenheim di New York (27/10/2017).

Kompas.com/Lusia Kus Anna CEO Mido Watch, Franz Linder.

Menurut dia, sebuah bangunan tentu tidak hanya dibangun untuk bertahan selama dua tahun. Begitu pula dengan sebuah arloji. “Jam Mido bukan hanya akan dipakai selama dua tahun lalu diganti dengan model yang baru. Kami membuat desain jam yang melampaui tren fashion,” ujar Linder.

Sekilas desain Mido memang memiliki tampilan klasik dan minimalis. Tetapi jika diperhatikan dengan baik, ada jejak-jejak arsitektur dalam setiap koleksinya.

Koleksi Multifort misalnya, yang terinspirasi dari jembatan Sydney Harbour. Pada bagian permukaan jam (dial) dihiasi garis-garis yang “diambil” dari kerangka besi pada jembatan yang jadi ikon bagi kota Sydney ini.

Demikian pula dengan seri All Dial, koleksi Mido yang terinspirasi dari bangunan terkenal Colosseum di Italia.

Pada bagian angka penunjuk waktu, bentuknya merujuk pada deretan tempat duduk di Coloseum. Warna silver hitam disandingkan nuansa oranye yang kontras membuat tampilannya lebih segar.

Sementara itu bagian tali rantainya (strap) ada lubang-lubang kecil yang meniru jendela-jendela di arena pertarungan gladiator itu. Bagian dial-nya yang berbentuk melingkar terinspirasi dari tangga colosseum.

Jam Mido seri All Dial yang terinspirasi dari Colloseum di Roma.Mido Watches Jam Mido seri All Dial yang terinspirasi dari Colloseum di Roma.

Detail-detail yang diambil dari bangunan ikonik tersebut menjadi nilai lebih dari setiap koleksi Mido.

“Sebuah jam tangan harus memiliki tampilan yang indah, karena itu desain sangat penting. Lalu sesuaikan dengan kepribadian kita,” kata Linder.

Setiap koleksi Mido diluncurkan dalam edisi terbatas. Menurut Linder, koleksi Baroncelli yang terinspirasi dari megahnya bangunan Rennes Opera House adalah produk Mido yang paling laris di seluruh dunia justru karena tampilannya yang klasik.

Tak hanya berhenti pada desain, Mido juga menawarkan inovasi dan memiliki mesin (movement) otomatis. “Tentu jam tangan tidak bisa dibandingkan dengan komputer. Inovasi kami terutama pada materialnya, akurasi, dan juga power reserve (penyimpanan tenaga),” ujar dia.

Ia tak menampik bahwa saat ini dunia, terutama orang muda, sedang tergila-gila pada “jam tangan pintar” keluaran perusahaan teknologi.

“Ini adalah tantangan buat kami, tapi smart watch bagi kami adalah fast moving consumer product, produk yang dengan cepat digantikan teknologi baru,” kata Linder.

Dengan konsistensinya pada desain klasik dan akurasi tinggi karena hampir semua jam Mido memiliki sertifikasi Controlle Official Swiss de Chronometre (COSC), Linder optimis bahwa Mido akan selalu memiliki tempat tersendiri.

“Target pasar kami adalah orang berusia di atas 25 tahun karena biasanya mereka sudah membentuk karakter. Jam tangan adalah produk personal yang merefleksikan karakter pemakainya,” ujarnya.

Menurut Linder, keistimewaan lain dari Mido adalah fitur yang diberikan jauh melebihi harganya. “Mido terkenal sebagai produk yang value for money,” katanya.

Fitur premium

Walau termasuk dalam “kelas menengah” dari segi harga, tetapi ternyata Mido memiliki fitur tak kalah dari jam-jam premium. Sebut saja chronometer pada sebagian besar koleksinya yang merupakan sebuah standarisasi keakuratan mesin jam.

“Chronometer ini dikeluarkan oleh suatu badan resmi yaitu COSC. Sejauh ini Mido termasuk dalam 5 besar jam tangan yang punya chronometer terbaik dengan akurasi mendekati 0,” kata Vice President Swatch Indonesia, Steven Cheng.

Ia mengatakan, jam tangan dengan standar chronometer umumnya memang lebih mahal 30 persen dibanding yang biasa.

Steven menjelaskan, untuk memiliki tingkat akurasi yang tinggi sesuai standar COSC, material yang dipakai harus bagus. “Misalnya saja roda penggeraknya pakai logam yang bagus atau silikon hairspring yang antimagnet sehingga akurasinya bertahan dalam jangka panjang,” ujarnya.



Untuk Info/Edukasi lebih lanjut, Silahkan Kunjungi SUMBER Berita, Artikel dan Foto ini, di : Source link

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan
%d blogger menyukai ini: