Dewa Arsitektur Dunia Frank Gehry Bicara Lewat Jari

Dewa Arsitektur Dunia Frank Gehry Bicara Lewat Jari


KOMPAS.com – Setelah dikecam dunia akibat mengacungkan jari tengah kepada jurnalis Spanyol pada Oktober 2014 lalu, Frank Gehry, kembali berbicara melalui jari-jarinya. Namun, kali ini bukan jari tengah, melainkan dua jempol.

Dua jempol tersebut dia tunjukkan kepada Gubernur Jenderal Australia, Sir Peter Cosgrove, saat pembukaan resmi gedung Dr Chau Chak Wing di sekolah bisnis University of Technology Sydney (UTS). Dua jempol Gehry ini bisa diartikan sebagai isyarat bahwa gedung baru tersebut sangat bagus.

Saya katakan, bangunan ini sebagai “bangunan yang tergencet kantong kertas cokelat paling indah yang pernah saya lihat,” puji Gehry kepada The Guardian.

Gehry beken sebagai “midas” arsitektur dunia. Apa pun yang dikatakannya selalu ditunggu-tunggu. Publik, termasuk arsitek, sangat antusias terhadap karya, maupun gaya bicaranya yang kontroversial.

Karya-karyanya juga dinilai publik, terutama kritikus arsitektur, sangat ikonik, orisinal, berbeda, sekaligus monumental. Dia merupakan idola para arsitek muda. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, 85 tahun, Gehry sanggup melahirkan karya arsitektur yang tak lekang zaman.

Salah satu yang fenomenal adalah museum Guggenheim, di Bilbao, Spanyol. Arsitek blasteran Kanada-Amerika ini sukses membuat museum tersebut, dan Bilbao tentunya, lebih dikenal masyarakat internasional saat diresmikan pada 1997.

Sekarang, masyarakat Australia pun berharap hal yang sama, bahwa gedung di UTS ini sebagai yang terunik sekaligus mengangkat harkat dan prestise pendidikan tinggi Australia abad ke-21. Ada sesuatu dalam karya Gehry ini yang lebih dari sekadar sebuah gedung sekolah bisnis. Visi yang direpresentasikan oleh kurva organik bangunan rancangannya, dapat memanusiakan aktivitas di dalamnya.

Salah satu hal menarik lainnya adalah “kelas oval” yang menghilangkan hirarki sivitas akademika. “Siapa pun yang pernah duduk di meja pertemuan ruang oval ini akan tahu dan merasakan bahwa hirarki itu tidak ada. Jika geometri mendikte orang untuk tidak menyentuh titik elips, sebaliknya aristektur dapat mengulurkan tangan lembut dan mendorong nilai-nilai demokrasi,” papar Gehry.

Itulah Gehry. Arsitek kharismatik yang kadang-kadang mencela diri sendiri. Saat ditanya apa yang bisa dan akan mengubah sebuah bangunan, ia menjawab, Oh boy, aku Yahudi dan aku merasa bersalah tentang segala sesuatu. Itu membawaku dua tahun yang akan datang. Aku melihat semua hal-hal akan berubah dan sebenarnya aku tidak akan berubah,” tandasnya.

Gehry tak pernah berhenti berkarya. Termasuk merancang proyek besar kantor pusat Facebook milik Zuckerberg. Dia pun masih menciptakan dan akan menciptakan kembali, paling tidak karya untuk dirinya sendiri.



Untuk Info/Edukasi lebih lanjut, Silahkan Kunjungi SUMBER Berita, Artikel dan Foto di : Source link

Bergabunglah dengan Diskusi

Compare listings

Membandingkan
%d blogger menyukai ini: